Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2008

Apakah RI Mengidap Dirty Politics?



Tidak ada yang lebih menjijikkan dari mereka yang mengambil keuntungan atas ketidaktahuan masyarakat. Mereka itu sama bahanya dengan kelompok kriminal yang membunuhi warga. Jangan anggap sepele persoalan ini. Banyak orang yang tewas di tangan orang lain yang harus kekayaan, kekuasaan dan dilanda kerakusan.
Itulah bagian dari politik kotor yang terjadi di banyak negara. Politik kotor yakni sebutan bagi politik, yang antara lain tidak mengutamakan aturan main yang bersih, jujur dan berintegritas. Ulasan mengenai itu sudah banyak diulas para pakar. Di antaranya adalah Kathleen Hall Jamieson, Profesor Komunikasi dan Direktur Annenberg Public Policy Center di University of Pennsylvania. Kathleen menulis buku berjudul “Dirty Politics: Deception, Distraction, and Democracy”.

Apakah Indonesia mengidap politik kotor juga? Tidak ada yang menyinggung hal itu. Lorraine Aragon, Profesor Antropologi dari University of North Carolina menuliskan artikel berjudul “Profiting from Displacement” dengan topik bahasan adalah kasus kerusuhan Poso. Ia menuliskan, banyak pihak yang justru diuntungkan dari kerusuhan itu, antara lain dari pengadaan dana untuk pembangunan rumah, dan dana-dana negara untuk program rekonsiliasi di Poso.

Namun hal itu telah dibantah langsung oleh Kapolri Sutanto bahwa konflik Poso bukanlah sekadar proyek bagi aparat.

Praktik dari politik kotor juga bisa menyangkut banyak hal, seperti sebuah tindakan yang menutup-nutupi fakta atas sebuah kejahatan, yang seharusnya mendapatkan hukuman namun kenyataannya didiamkan atau bahkan mendapatkan kebebasan.
Politik kotor juga banyak terjadi dalam pemilihan umum, yang korbannya adalah para pemilih.

Beranikah kita mengatakan Indonesia terbebas dari politik kotor, dengan melihat banyaknya kejanggalan-kejanggal di bidang penegakan hukum, keamanan, kriminal ekonomi dan berbagai aspek?

Jika Indonesia tidak mengidap politik kotor, tentu suatu hal bagus. Namun sebelum menyimpulkan hal itu, sebaiknya para pemikir negara ini melakukan penelitian soal ada tidaknya eksistensi politik kotor itu. Jika itu eksis, sangat bahaya bagi masa depan bangsa, dan tentu bagi anak cucu kita di kemudian hari.

dari : caninews.com

Selasa, 29 April 2008

Maradona Jadi Politikus

Senin , 28 April 2008 , 16:51:40 wib

Persda Network/Antonius Bramantoro

BUENOS AIRES, TRIBUN - Mantan pesepakbola tersohor asal Argentina Diego Maradona tampaknya ingin memutar haluan dengan menggeluti arena politik di negeranya sendiri. Mungkin, setelah merasa jenuh dengan dunia sepakbola yang sudah digelutinya beberapa tahun itu, Maradona ingin mencoba peruntungan di peta per politikan negaranya. Untuk memuluskan niatnya berpolitik, Maradona kini bergabung dengan partai politik terbesar di Argentina yang berkuasa sejak tahun 1940, Partai Peronist.

Kini, Maradona sudah resmi menjadi anggota partai tersebut. Bahkan pimpinan partai yang baru dimasukinya itu memberikan nomor keanggotaan bagi pemilik "Tangan Tuhan" di Piala Dunia Meskiko tahun 1986 itu dengan nomor istimewa yang menjadi favoritnya di belakang punggung kostum Timnas Argentina, yakni nomor 10.

Surat kabar Guardian memberitakan, Maradona selama ini tak pernah berbicara soal aliran politiknya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dia menunjukkan dukungannya kepada Peronist dan beberapa presiden dari partai itu. Peronist merupakan partai yang didirikan Juan Domingo Peron serta sang istri, Evita Peron, pada tahun 1940.

Walikota Provinsi Buenos Aires Ezeiza pun diberitakan surat kabar itu mengungkapkan bahwa ayah Maradona adalah pendukung partai Peronist. "Ayah Maradona adalah pendukung partai Peronist dan itu sebabnya Maradona sendiri mengaku akan senang sekali jika bisa menunjukkan keanggotaannya kepada sang ayah," katanya.

Seluruh keluarga Maradona pun diakuinya adalah simpatisan Peronist. "Makanya kami memberinya nomor 10. Nomor keramat 10 adalah milik Maradona. Kami menerimanya dengan tangan terbuka. Terima kasih, Diego," ujar Alejandro Santiago Granados, walikota Ezeiza, Buenos Aires.

Mantan pemain Napoli dan Barcelona itu selama ini juga dekat dengan politikus sayap kiri sejumlah negara seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez, dan mantan penguasa Kuba Fidel Castro. Sedangkan mantan Presiden Argentina Nestor Kirchner, menyambut gembira bergabungnya Maradona dalam tugas pertamanya sebagai pemimpin partai Peronist. (*)
dari : tribunjabar.co.id

Tak Ada Kawan dan Lawan yang Abadi

enin , 28 April 2008 , 00:07:36 wib

Machmud Mubarok

POLITIK adalah dunia intrik, begitu pandangan umum mendefinisikan. Pandangan itu tentu tidak salah, karena masyarakat melihat berdasarkan pengalaman, seperti itulah dunia politik.

Jargon terkenal dalam dunia politik adalah tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Bisa jadi hari ini, si A dan si B adalah kawan senasib sepenanggungan, berjuang habis-habisan, untuk meraih cita-cita bersama. Tapi jangan salah, besok lusa si A dan si B akan saling berhadapan, saling menumbangkan, untuk meraih kepentingan yang lain lagi.

Contoh paling mudah adalah pemilihan gubernur Jabar kemarin. Bukankah Danny Setiawan dan Nu'man A Hakim adalah dua sekawan yang bahu-membahu membangun Jabar lima tahun terakhir? Tapi keduanya harus berhadapan saat pemilihan berikutnya, tentu dengan tujuan dan kepentingan yang tidak sama lagi dengan sebelumnya.

Yang lebih gres lagi adalah pasangan pemenang Pilgub Jabar, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Mereka begitu solid pada pemilihan kemarin. Tapi sangat mungkin dua pemimpin muda ini "berpisah", ketika mereka belum dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur Jabar.

Kemarin, Gubernur Jabar terpilih, Ahmad Heryawan, bersilaturahmi dengan kader dan saksi dari PKS, di Parongpong. Heryawan pun bersua dengan pasangan calon bupati dan wakil bupati, Agus Yasmin dan Haris Yuliana, yang diusung Partai Golkar dan PKS. Di tempat terpisah, wakil gubernur Jabar terpilih, Dede Yusuf, juga bertemu dengan pasangan Abubakar-Ernawan yang didukung PDIP dan Koalisi Partai Islam Bandung Barat Bersatu (Kibbar) dan PAN termasuk di dalamnya.

Bagaimanapun kemenangan Hade yang begitu fenomenal akan dimanfaatkan partai-partai yang bakal bertarung pada Pilkada Kabupaten Bandung Barat, Mei mendatang. Sangat mungkin, kubu Partai Golkar-PKS dan Kibbar-PDIP akan menarik dua tokoh muda itu ke pusaran perebutan kursi bupati sebagai vote getter.

Di sinilah menariknya, Pilkada KBB akan menjadi pertarungan sekaligus pertaruhan antara efektivitas mesin politik dan popularitas. Mesin politik adalah cerminan soliditas PKS, sementara popularitas adalah cerminan Dede Yusuf. Akankah keduanya turun gelanggang kembali untuk memenangkan calon yang diusung partai masing-masing, kita tinggal melihat saja.

Jadi sesungguhnya, dalam politik, kepentingan yang bisa merekatkan dua orang atau lebih, atau dua partai atau lebih, adalah kursi kekuasaan. Ketika kekuasaan sudah menjadi tujuan, dan ada kesepahaman untuk meraihnya, seorang lawan bisa berbalik menjadi kawan, atau sebaliknya, kawan bisa menjadi lawan.

Persoalannya, kalau hal seperti ini tidak dikelola dengan baik, dalam artian, tidak ada pendidikan politik yang bisa diterima secara mudah oleh logika awam, bisa membuat bingung masyarakat. Kemarin kok bersatu padu, sekarang malah berbeda, mungkin begitu gerundel masyarakat.

Hal semacam ini tidak akan dijumpai di Amerika Serikat, karena mereka hanya mengenal dua partai, yaitu Republik dan Demokrat. Di pemilihan tingkat manapun, mulai wali kota/bupati hingga presiden, partai yang bertarung hanya dua.

Semoga saja, bukan kebingungan yang didapat masyarakat dengan proses Pilkada ini. Tapi justru kesejahteraan yang menjadi tujuan bersama semua pihak. (*)

dari :tribunjabar.co.id

Tanda-tanda Zaman

Selasa , 22 April 2008 , 00:15:07 wib

Sujarwo

JARAK antara Jawa Barat (Jabar) dan Amerika Serikat (AS) memang jauh. Tetapi belakangan ini terkesan menjadi dekat. Perekatnya adalah pemilihan gubernur Jabar dan pemilihan bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat. Sampai-sampai muncul julukan Obama van Java.

Julukan itu tak lain ditujukan buat Dede Yusuf. Kiprah politik Dede memang masih jauh dibanding Barack Obama. Tetapi, kedua tokoh muda ini sama-sama sedang bersinar bintangnya di panggung politik.


Obama telah menjadi simbol rakyat AS yang ingin perubahan. Di luar dugaan, pria berdarah Kenya dan pernah tinggal di Indonesia ini unggul dalam perolehan suara sementara. Padahal lawannya mantan ibu negara AS, Hillary Clinton. Obama pun sangat berpeluang menjadi kandidat presiden AS dari Demokrat.


Tak jauh beda Dede Yusuf. Karier politik keturunan Kuwu Jatinegara, Kawali, Ciamis ini terus melejit. Pencalonannya sebagai wakil gubernur Jabar 2008 mendampingi Ahmad Heryawan sebelumnya kurang diperhitungkan.


Pasangan Ahmad-Dede (Hade), yang sama-sama muda dibanding saingannya dalam Pilkada Jabar ini telah mengejutkan jagat politik nasional. Hasil sementara, Hade mengungguli pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (Dai) dan Agum Gumelar-
Nu'man Abdul Hakim (Aman).


Mengejutkan, karena Aman diusung partainya mantan presiden dan mantan wakil presiden. Pasangan Dai diusung partainya presiden dan wakil presiden saat ini. Ada yang menyebut, kemenangan Hade seperti sukses tim sepakbola Korea Selatan di Piala Dunia 2002.


Tetapi, rasanya, fenomena Dede dan Obama bukan sekadar masalah menang-kalah. Bukan sekadar yang muda ungguli yang tua. Bukan pula sekadar ngadatnya mesin politik partai-partai besar. Lebih dari itu, ada sinyal yang segera butuh pemahaman bersama. Butuh kesadaran bersama bahwa ada "sesuatu yang salah". Sesuatu yang perlu segera diubah karena lama berdampak menyengsarakan rakyat kebanyakan. Entah itu berupa sistem atau yang lain.


Sebuah kemenangan mengejutkan, biasanya berubah menjadi spirit. Kemenangan pasukan Jepang atas Rusia pada 1905, misalnya. Kemenangan ini telah menggugah semangat para pejuang kemerdekaan di negara-negara Asia yang terjajah, termasuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Ternyata, bangsa Asia bisa mengalahkan bangsa besar Eropa semacam Rusia. Bangsa Eropa saat itu adalah simbol penindas bangsa-bangsa Asia Afrika.


Tak ada salahnya kembali mengingat kronologi perjalanan bangsa ini versi Ilin Dasyah (73), tetua adat Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ia membeberkannya berdasarkan sembilan urutan huruf Jawa-
Sunda, yaitu Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa...


Ha, menurut Ilin, berarti zaman Hindu, Na zaman Ratu Yuliana (Belanda), Ca berarti Cina (zaman Jepang), Ra zaman RIS atau zaman Soekarno, Da zaman Darul Islam, dan Ta berarti zaman Soeharto. Sekarang ini masih berada di alam Sa, zaman serba Salah. Di alam Sa ini, ibarat bunyi gamelan yang belum selaras. Bunyinya masih serba "udut", kepanjangan dari "urusan dagang dan duit" melulu.


Setelah zaman Sa adalah zaman Wa. Wa awalan dari wali. Jadi, maksudnya Zaman Wali. Zaman yang kalau diibaratkan gamelan bunyinya sudah selaras, semisal gamelan sekaten karya Sunan Kalijaga. Antara pemimpin dan rakyat sudah sehati.


Segala kebijakan pemerintah selalu sesuai harapan rakyat. Zaman yang menjunjung tinggi toleransi. Konon, datangnya "zaman emas" ini paling cepat tahun 2009.


Jika Jawa selama ini disepakati sebagai barometer politik nasional, masih terkesan dini fenomena Pilkada Jabar sebagai acuan melihat tanda-tanda zaman. Zaman yang lama ditunggu rakyat kebanyakan. Jadi, masih perlu lagi mencermati Pilkada Jawa Tengah dan Pilkada Jawa Timur yang segera akan berlangsung. (*)



dari : tribunjabar.co.id