Senin , 28 April 2008 , 15:37:11 wib
Domuara Ambarita
JAKARTA, TRIBUN - Harga minyak mentah di pasaran dunia semakin tak terkendali. Senin (28/4) WIB, harganya berada di level tertinggi baru 119,93 dollar AS per barel. Analis dunia menyebut, faktor melambungnya harga minyak hingga mencatatkan rekor baru akibat aksi pemberontakan gerombolan bersenjata di Delta Nigeria yang meledakkan pipa produksi minyak Shel, serta pemogokan buruh kilang minyak Exxon Mobil di negara yang sama, serta masih tegang hubungan Amerika dengan Iran.
Namun bagi Raja Jawa, Sri Sultan Hamengkubuwono X, penyebab lonjakan harga minyak bukan saja hal-hal tersebut di atas. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta menduga lonjakan harga minyak mentah di pasaran dunia tidak lain adalah akibat ulah pemerintahan Amerika Serikat.
Alasannya, saat ini perekonomian Amerika Serikat sedang diterpa krisis ekonomi. Sedangkan pesaingnya di Eropa maupun Asia. Negara-negara Eropa (minus Inggris) yang memiliki mata uang tunggal Euro, misalnya, perekonomiannya masih normal. Demikian juga perekonominan Cina tumbuh pesat.
Karena kondisi ini tidak menyejahterakan rakyat Amerika, dia menduga kenaikan harga minyak yang sudah mendekati 120 dolar per barel adalah by design. Mengapa? Perbandingan dolar terhadap Euro sudah 1,6, artinya produk-produk Eropa akan mahal di Amerika. Ini tidak
menyejahterakan.
"Jadi saya melihat ini persaingan. Ayo, siapa yang napasnya lebih panjang, apakah Amerika, Eropa dengan uang tunggalnya Euro atau Cina. Amerika memang meingimpor minyak, tetapi 65 persen produksi minyak dikuasai Amerika. Eropa seratus persen impor, sedangkan produk Cina
hanya 27 persen mampu memenuhi kebutuhan domestik. Jadi Amerika mau menunjukkan, kalau mereka bisa bernapas lebih panjang," ujar Sri Sultan saat bertandang selama tiga jam ke redaksi Persda Network di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (28/4).
Saat berkunjung ke Persda, Sultan tanpa didampingi staf. Dia hanya ditemani Putut Prabantoro, dari Veloxxe Consulting. Sultan diterima Direktur Kelompok Persda Herman Darmo, Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono, Wadirkel Persda Sentijantao dan jajaran. Selama tiga jam lebih sultan berdiskusi tentang banyak hal.
Kantor berita BBC melaporkan harga minyak di pasaran dunia terus meningkat. Senin pagi WIB, harganya mendekati 120 dolar per barel. Kondisi ini diduga akibat nyaris terhentinya produksi dua perusahaan minyak terbesar di Nigeria.
Dalam serangan keempat dalam sepekan terakhir, kelompok militan Delta Nigeria meledakkan pipa produksi minyak Shell. Ada pun buruh Exxon Mobil masih mogok bekerja. Kondisi ini sangat sulit dipulihkan, karena kelompok bersenjata Nigeria yang dipimpin Henry Okah, mengklaim bertanggung jawab atas serangan terakhir. "Kami mendesak pemerintah agar tidak sibuk memperbaiki pipa yang rusak, karena kami akan melanjutkan serangan," kata kelompok yang menamakan dinya Pergerakan untuk Emansipasi Nigera.
Padahal permintaan atas minyak Niegeri sangat tinngi. Kapasitas produksi rata-rata sebesar 2,5 juta barel per hari, dan karena terjadi pemogokan dan pemberontakan, produksi hanya sekitar 25 persen. Exxon Mobil mengatakan hanya dapat mengoperasikan sebagian kegiatan industri, sedangkan Shell mengaku sangat khawatir pengapalan minyak sesuai target sebesar 169 ribu barek per hari sangat sulit terpenuhi sejak meningkatnya serangan gerombolan bersenjata beberapa pekan terakhir. (*)
dari : tribunjabar.co.id
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar