Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2008

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Makin Terbatas


Tanpa kita sadari, sebenarnya telah banyak potensi pertumbuhan yang hilang dari Negara ini. Secara nyata, hal itu sudah dirasakan dengan semakin berkurangnya sumber pendapatan.

Mau contoh? Pemerintah terpaksa menaikkan harga minyak dengan mencabut subsidi di saat rakyat justru tidak siap.

Mau contoh lagi? PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir karena ketiadaan dana untuk bahan bakar, meski ada alasan mendesak bahwa Indonesia sedang kekeringan, yang membuat kapasitas pembangkit listrik tenaga air makin berkurang.

Contoh lain lagi adalah penjualan otomotif yang menurun 50 persen pada semester pertama 2006 dibandingkan periode yang sama 2005.

Sebenarnya, hal itu merupakan turunan dari makin sempitnya sumber pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini sudah diketahui umum, setidaknya pemerintah. Namun belum ada terlihat tindakan nyata untuk membalikkan keadaan.

Struktur permintaan di Indonesia, jika dilihat dari segi persentasenya terhadap produksi domestik bruto (PDB), juga tidak sehat dibandingkan dengan tetangga kita di Asia (lihat tabel).

Persentase pembentukan modal seharusnya lebih besar dari konsumsi. Hal itu berbeda dengan China dan India yang memperlihatkan porsi konsumsi swasta lebih kecil dibandingkan dengan porsi investasi.

Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, pernah mengatakan bahwa pertumbuhan PDB yang didukung konsumsi, bukanlah sebuah PDB yang sustainable.

Konsumsi bersifat menghabiskan. Sebaliknya, investasi justru bersifat menghasilkan.
Lebih bahaya lagi, jika konsumsi itu bukan didukung pendapatan nyata, akan tetapi pinjaman dari bank dalam bentuk kredit konsumsi.
Hal inilah juga yang selalu menjadi kecemasan Dr Faisal Basri. Dia selalu menggerutu agar Indonesia membalikkan keadaan dengan mendorong investasi.

Jika berbicara soal investasi, persoalan kembali ke awal lagi, yakni iklim investasi, keberadaan infrastruktur, faktor birokrasi, unsur keamanan. Ini semua sudah diketahui. Namun lagi-lagi, belum ada upaya nyata untuk mewujudkan hal itu.

Dampaknya di masa datang, bukan hanya semakin banyak eksodus warga yang mencari penghidupan di luar negeri. Kekhawatiran utama, RI tidak bisa mengatasi kemiskinan di dalam negeri, yang justru semakin menambah runyam persoalan di masa datang di Negara ini.

Struktur Permintaan, Persentase Terhadap PDB pada harga Berlaku

2001

2002

2003

2004

Konsumsi swasta

57.7

59.9

55.8

58.9

Konsumsi pemerintahan

9.4

8.5

8.7

8.8

Pembentukan modal bruto domestik

31.4

28.8

32.6

30.7

Ekspor barang dan jasa

23.9

23.8

24.3

25.3

Impor barang dan jasa

22.4

21.1

21.4

23.7

Sumber: Asian Development Bank, 2005

dari : caninews.com

Selasa, 29 April 2008

Sultan Duga Naiknya Harga Minyak Ulah Amerika

Senin , 28 April 2008 , 15:37:11 wib

Domuara Ambarita

JAKARTA, TRIBUN - Harga minyak mentah di pasaran dunia semakin tak terkendali. Senin (28/4) WIB, harganya berada di level tertinggi baru 119,93 dollar AS per barel. Analis dunia menyebut, faktor melambungnya harga minyak hingga mencatatkan rekor baru akibat aksi pemberontakan gerombolan bersenjata di Delta Nigeria yang meledakkan pipa produksi minyak Shel, serta pemogokan buruh kilang minyak Exxon Mobil di negara yang sama, serta masih tegang hubungan Amerika dengan Iran.

Namun bagi Raja Jawa, Sri Sultan Hamengkubuwono X, penyebab lonjakan harga minyak bukan saja hal-hal tersebut di atas. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta menduga lonjakan harga minyak mentah di pasaran dunia tidak lain adalah akibat ulah pemerintahan Amerika Serikat.

Alasannya, saat ini perekonomian Amerika Serikat sedang diterpa krisis ekonomi. Sedangkan pesaingnya di Eropa maupun Asia. Negara-negara Eropa (minus Inggris) yang memiliki mata uang tunggal Euro, misalnya, perekonomiannya masih normal. Demikian juga perekonominan Cina tumbuh pesat.

Karena kondisi ini tidak menyejahterakan rakyat Amerika, dia menduga kenaikan harga minyak yang sudah mendekati 120 dolar per barel adalah by design. Mengapa? Perbandingan dolar terhadap Euro sudah 1,6, artinya produk-produk Eropa akan mahal di Amerika. Ini tidak
menyejahterakan.

"Jadi saya melihat ini persaingan. Ayo, siapa yang napasnya lebih panjang, apakah Amerika, Eropa dengan uang tunggalnya Euro atau Cina. Amerika memang meingimpor minyak, tetapi 65 persen produksi minyak dikuasai Amerika. Eropa seratus persen impor, sedangkan produk Cina
hanya 27 persen mampu memenuhi kebutuhan domestik. Jadi Amerika mau menunjukkan, kalau mereka bisa bernapas lebih panjang," ujar Sri Sultan saat bertandang selama tiga jam ke redaksi Persda Network di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (28/4).

Saat berkunjung ke Persda, Sultan tanpa didampingi staf. Dia hanya ditemani Putut Prabantoro, dari Veloxxe Consulting. Sultan diterima Direktur Kelompok Persda Herman Darmo, Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono, Wadirkel Persda Sentijantao dan jajaran. Selama tiga jam lebih sultan berdiskusi tentang banyak hal.

Kantor berita BBC melaporkan harga minyak di pasaran dunia terus meningkat. Senin pagi WIB, harganya mendekati 120 dolar per barel. Kondisi ini diduga akibat nyaris terhentinya produksi dua perusahaan minyak terbesar di Nigeria.

Dalam serangan keempat dalam sepekan terakhir, kelompok militan Delta Nigeria meledakkan pipa produksi minyak Shell. Ada pun buruh Exxon Mobil masih mogok bekerja. Kondisi ini sangat sulit dipulihkan, karena kelompok bersenjata Nigeria yang dipimpin Henry Okah, mengklaim bertanggung jawab atas serangan terakhir. "Kami mendesak pemerintah agar tidak sibuk memperbaiki pipa yang rusak, karena kami akan melanjutkan serangan," kata kelompok yang menamakan dinya Pergerakan untuk Emansipasi Nigera.

Padahal permintaan atas minyak Niegeri sangat tinngi. Kapasitas produksi rata-rata sebesar 2,5 juta barel per hari, dan karena terjadi pemogokan dan pemberontakan, produksi hanya sekitar 25 persen. Exxon Mobil mengatakan hanya dapat mengoperasikan sebagian kegiatan industri, sedangkan Shell mengaku sangat khawatir pengapalan minyak sesuai target sebesar 169 ribu barek per hari sangat sulit terpenuhi sejak meningkatnya serangan gerombolan bersenjata beberapa pekan terakhir. (*)
dari : tribunjabar.co.id